Suku Jawa
Bangsa Paling Rahasia inilah yang menurunkan
pelbagai bangsa Asia dari tempat asal mereka yaitu Asia Barat dan Asia Tengah
di mana dari situlah bermulanya peradaban manusia. Bangsa ini, yang merupakan
pemegang rahasia akhir zaman adalah satu bangsa besar yang pernah membangun
kota-kota purba dan menyertai peperangan-peperangan agung sejak surutnya Banjir
Besar bersama-sama bangsa agung yang telah pupus seperti Sumerian dan Akkadian.
Sesungguhnya kisah pengembaraan bangsa ini merupakan satu epik yang teramat
panjang, lebih panjang dari epik Homer, The Iliad and the Odyssey. Siapakah
Bani Jawi? Apa Misi rahasia Bani Jawi? Siapakah bani Jawi/Jawa/Melayu?
Darimanakah asalnya Melayu itu? Ketika ramai ilmuwan memperdebatkan kaum-kaum
yang hilang seperti The Lost Tribe of Israel, Atlantis, Lemuria, Sodom and
Gomorrah malah masih mencari-cari siapakah Gog and Magog, rahasia bangsa
misteri ini masih terpelihara di dalam tabut rahasia sejak beribu-ribu tahun.
Tiada siapa yang tahu dari mana asalnya bangsa ini. Bagaimana bangsa ini boleh
wujud di tanah paling selatan benua Asia, ’di penghujung dunia’. Bangsa yang
hilang masih tidur dan ditidurkan. ’Di hujung dunia’, setelah penat mengembara,
bangsa misteri berehat dan berehat, tidur dengan lenanya, senyap sunyi tanpa
siapa mengganggu walaupun Hitler telah pergi ke Tibet mencari bangsa misteri
ini, tetapi dia juga ketinggalan jejak mereka. Dimanakah bangsa misteri ini
meneruskan perjalanan mereka? Masih adakah masa lagi untuk menjejaki mereka?
Mengapa Israel bersusah-payah membangun pangkalan dan pengaruhnya di Singapura?
Apa kaitan Cina Singapura dengan Yahudi Zionis? Adakah terdapat apa-apa
perancangan ketika Stamford Raffles menjejakkan kakinya di Pulau Singapura? Apa
hubungan Bangsa Melayu dengan Bangsa Yahudi? Apakah dia alter Paling Rahasia
Bangsa Melayu? Apa yang terjadi 2000 tahun sebelum Masehi di antara Melayu dan
Yahudi? ‘Dihujung Dunia’ bangsa ini masih nyenyak tidur! J. Crawfurd menambah
hujahnya dengan bukti bahawa bangsa Melayu dan bangsa Jawa telah memiliki taraf
kebudayaan yang tinggi dalam abad kesembilan belas. Taraf ini hanya dapat
dicapai setelah mengalami perkembangan budaya beberapa abad lamanya. Beliau
sampai pada satu kesimpulan bahawa: *Orang Melayu itu tidak berasal dari
mana-mana, tetapi malah merupakan induk yang menyebar ke tempat lain. Rahasia
yang terpendam beribu tahun tentang satu bangsa pengembara yang mencari ‘Tanah
yang Dijanjikan’ semakin lama semakin terbongkar dengan penemuan pelbagai
artifak yang penuh misteri dan mengundang pertanyaan seperti penemuan keris di
sebuah kuil purba di Okinawa Jepun, kendi purba yang sama di Vietnam, Kemboja
dan Pahang, penemuan kota purba yang dinamakan Jawi/Jawa di Jordan dan juga
penemuan keris purba di Rusia selain gendang Dong Son dan Kapak Tua Asia Tengah
yang popular itu. APA MAKSUD KEPADA SEMUA MISTERI INI?
Leluhur Bangsa Jawi
Di dalam Mitologi Jawa diceritakan bahwa salah satu leluhur
Bangsa Sunda (Jawa) adalah Batara Brahma atau Sri Maharaja Sunda, yang bermukim
di Gunung Mahera. Selain itu, nama Batara Brahma, juga terdapat di dalam
Silsilah Babad Tanah Jawi. Di dalam Silsilah itu, bermula dari Nabi Adam yang
berputera Nabi Syits, kemudian Nabi Syits menurunkan Sang Hyang Nur Cahya, yang
menurunkan Sang Hyang Nur Rasa. Sang Hyang Nur Rasa kemudian menurunkan Sang
Hyang Wenang, yang menurunkan Sang Hyang Tunggal. Dan Sang Hyang Tunggal,
kemudian menurunkan Batara Guru, yang menurunkan Batara Brahma.
Berdasarkan pemahaman dari naskah-naskah kuno bangsa Jawa, Batara Brahma
merupakan leluhur dari raja-raja di tanah Jawa.
Bani Jawi
Keturunan Nabi Ibrahim
Di dalam Kitab ‘al-Kamil fi al-Tarikh‘ tulisan Ibnu Athir,
menyatakan bahwa Bani Jawi (yang di dalamnya termasuk Bangsa Sunda, Jawa,
Melayu Sumatera, Bugis, dsb), adalah keturunan Nabi Ibrahim.
Bani Jawi sebagai keturunan Nabi Ibrahim, semakin nyata, ketika baru-baru ini,
dari penelitian seorang Profesor Universiti Kebangsaaan Malaysia (UKM),
diperoleh data bahwa, di dalam darah DNA Melayu, terdapat 27% Variant
Mediterranaen (merupakan DNA bangsa-bangsa EURO-Semitik).
Variant Mediterranaen sendiri terdapat juga di dalam DNA keturunan Nabi Ibrahim
yang lain, seperti pada bangsa Arab dan Bani Israil.
Sekilas dari beberapa pernyataan di atas, sepertinya terdapat perbedaan yang
sangat mendasar. Akan tetapi, setelah melalui penyelusuran yang lebih mendalam,
diperoleh fakta, bahwa Brahma yang terdapat di dalam Metologi Jawa indentik
dengan Nabi Ibrahim.
Brahma adalah
Nabi Ibrahim
Mitos atau Legenda, terkadang merupakan peristiwa sejarah.
Akan tetapi, peristiwa tersebut menjadi kabur, ketika kejadiannya di
lebih-lebihkan dari kenyataan yang ada.
Mitos Brahma sebagai leluhur bangsa-bangsa di Nusantara, boleh jadi merupakan
peristiwa sejarah, yakni mengenai kedatangan Nabi Ibrahim untuk berdakwah,
dimana kemudian beliau beristeri Siti Qanturah (Qatura/Keturah), yang kelak
akan menjadi leluhur Bani Jawi (Melayu Deutro).
Dan kita telah sama pahami bahwa, Nabi Ibrahim berasal dari bangsa ‘Ibriyah,
kata ‘Ibriyah berasal dari ‘ain, ba, ra atau ‘abara yang berarti menyeberang.
Nama Ibra-him (alif ba ra-ha ya mim), merupakan asal dari nama Brahma (ba ra-ha
mim).
Beberapa fakta yang menunjukkan bahwa Brahma yang terdapat di dalam Mitologi
Jawa adalah Nabi Ibrahim, di antaranya :
1. Nabi Ibrahim memiliki isteri bernama Sara, sementara Brahma pasangannya
bernama Saraswati.
2. Nabi Ibrahim hampir mengorbankan anak sulungnya yang bernama Ismail,
sementara Brahma terhadap anak sulungnya yang bernama Atharva (Muhammad in
Parsi, Hindoo and Buddhist, tulisan A.H. Vidyarthi dan U. Ali)…
3. Brahma adalah perlambang Monotheisme, yaitu keyakinan
kepada Tuhan Yang Esa (Brahman), sementara Nabi Ibrahim adalah Rasul yang
mengajarkan ke-ESA-an ALLAH.
Ajaran Monotheisme di dalam Kitab Veda, antara lain :
Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan, Dia tidak
pernah dilahirkan, Dia yg berhak disembah
Yajurveda Ch. 40 V. 8 menyatakan bahwa Tuhan tidak berbentuk dan dia suci
Atharvaveda Bk. 20 Hymn 58 V. 3 menyatakan bahwa sungguh Tuhan itu Maha Besar
Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan
Rigveda Bk. 1 Hymn 1 V. 1 menyebutkan : kami tidak menyembah kecuali Tuhan yg
satu
Rigveda Bk. 6 Hymn 45 V. 6 menyebutkan “sembahlah Dia saja, Tuhan yang
sesungguhnya”
Dalam Brahama Sutra disebutkan : “Hanya ada satu Tuhan, tidak ada yg kedua.
Tuhan tidak berbilang sama sekali”.
Ajaran Monotheisme di dalam Veda, pada mulanya berasal dari
Brahma (Nabi Ibrahim). Jadi makna awal dari Brahma bukanlah Pencipta, melainkan
pembawa ajaran dari yang Maha Pencipta.
4. Nabi Ibrahim mendirikan Baitullah (Ka’bah) di Bakkah
(Makkah), sementara Brahma membangun rumah Tuhan, agar Tuhan di ingat di sana
(Muhammad in Parsi, Hindoo and Buddhist, tulisan A.H. Vidyarthi dan U. Ali).
Bahkan secara rinci, kitab Veda menceritakan tentang bangunan tersebut :
Tempat kediaman malaikat ini, mempunyai delapan putaran dan sembilan pintu…
(Atharva Veda 10:2:31)
Kitab Veda memberi gambaran sebenarnya tentang Ka’bah yang didirikan Nabi
Ibrahim.
Makna delapan putaran adalah delapan garis alami yang mengitari wilayah Bakkah,
diantara perbukitan, yaitu Jabl Khalij, Jabl Kaikan, Jabl Hindi, Jabl Lala,
Jabl Kada, Jabl Hadida, Jabl Abi Qabes dan Jabl Umar.
Sementara sembilan pintu terdiri dari : Bab Ibrahim, Bab al Vida, Bab al Safa,
Bab Ali, Bab Abbas, Bab al Nabi, Bab al Salam, Bab al Ziarat dan Bab al Haram.
Monotheisme Ibrahim
Peninggalan Nabi Ibrahim, sebagai Rasul pembawa ajaran Monotheisme, jejaknya
masih dapat terlihat pada keyakinan suku Jawa, yang merupakan suku terbesar
dari Bani Jawi.
Suku Jawa sudah sejak dahulu, mereka menganut monotheisme, seperti keyakinan
adanya Sang Hyang Widhi atau Sangkan Paraning Dumadi.
Selain suku Jawa, pemahaman monotheisme juga terdapat di dalam masyarakat Sunda
Kuno. Hal ini bisa kita jumpai pada Keyakinan Sunda Wiwitan. Mereka meyakini
adanya ‘Allah Yang Maha Kuasa‘, yang dilambangkan dengan ucapan bahasa ‘Nu
Ngersakeun‘ atau disebut juga ‘Sang Hyang Keresa‘.
Dengan demikian, adalah sangat wajar jika kemudian mayoritas Bani Jawi
(khususnya masyarakat Jawa) menerima Islam sebagai keyakinannya. Karena pada
hakekatnya, Islam adalah penyempurna dari ajaran Monotheisme (Tauhid) yang di
bawa oleh leluhurnya Nabi Ibrahim.
Hubungan dengan Fir’aun
Pada masa
Dinasti ke-18 Fir’aun di Mesir (sekitar 1.567SM-1.339SM), di pesisir barat
pulau sumatera telah ada pelabuhan yang ramai, dengan nama Barus. Pelabuhan ini
berkembang dengan baik, dikarenakan ada bangsa yang mengatur, serta menjaganya
dari serangan bajak laut atau negara lain.
Penguasa Pelabuhan Barus, dikenal dengan nama Bangsa Malai.
Malai dalam bahasa Sanskrit atau Tamil, berarti bukit (gunung). Seperti
namanya, Bangsa Malai bermukim di sekitar perbukitan (dataran tinggi).
Asal Muasal
Bangsa Malai
Diperkirakan bangsa Malai, bermula dari 4 (empat) bangsa,
yakni Arab-Cina-Eropa-Hindia, terkadang disingkat ACEH (sampai sekarang istilah
ACEH masih dinisbatkan kepada keturunan Bangsa Malai yang tinggal di ujung
utara pulau sumatera). Bangsa yang pertama datang adalah Bangsa Hindia Malaya
(Himalaya). Bangsa Himalaya merupakan interaksi antara Bangsa Hindia (keturunan
Kusy keturunan Ham bin Nabi Nuh), dengan Bangsa Malaya (keturunan Bangsa Malaya
Purba/Atlantis/Sundaland [Penduduk Asli Nusantara], yang selamat dari bencana
banjir Nuh). Pada awalnya mereka tinggal di kaki gunung Himalaya, sekitar tahun
6.000SM mereka datang ke pulau sumatera. Mereka menyusul kerabatnya bangsa
Polinesia (keturunan Heth keturunan Ham bin Nabi Nuh), yang telah terlebih
dahulu datang, dan bertempat tinggal di bagian timur Nusantara. Pada sekitar tahun
4.500SM, datang Bangsa Cina atau Bangsa Formosa (keturunan Shini keturunan
Yafits bin Nabi Nuh). Bangsa ini membawa budaya Agraris dari tempat asalnya. Setelah
itu sekitar tahun 2.500SM, datang Bangsa Eropa atau Bangsa Troya/Romawi Purba
(keturunan Rumi keturunan Yafits bin Nabi Nuh), mereka membawa Peradaban
Harappa, yang dikenal sudah sangat maju. Dan terakhir sekitar tahun 2.200SM
datang Bangsa Arab Purba atau Bangsa Khabiru (keturunan ‘Ad keturunan Sam bin
Nabi Nuh). Bangsa Khabiru adalah pengikut setia Nabi Hud, mereka datang dengan
membawa keyakinan Monotheisme, di dalam masyarakat pulau sumatera. Penyatuan
ke-empat bangsa ini di kenal dengan nama Bangsa Malai (Bangsa Aceh Purba/Melayu
Proto), dengan mata pencaharian utama sebagai nelayan dan petani. Bangsa Malai
sebagaimana leluhur pertamanya Bangsa Himalaya, mendiami daerah dataran tinggi,
yaitu di sepanjang Bukit Barisan (dari Pegunungan Pusat Gayo di utara, sampai
daerah sekitar Gunung Dempo di selatan). Bermula dari Bukit Barisan inilah,
Bangsa Malai menyebar ke pelosok Nusantara, seperti di Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi, Semenanjung Malaya, Siam, Kambujiya, Sunda, Jawa, Bali, Nusa
Tenggara, Maluku dan Papua.
Bangsa Malai
Pelindung Nusantara
Menurut para sejarawan, Bangsa Mongoloid begitu mendominasi
daerah di sebelah utara Nusantara. Muncul pertanyaan, mengapa bangsa Mongoloid
(Jengis Khan) tidak sampai meluaskan kekuasaan sampai ke selatan, bukankah
nusantara adalah daerah yang sangat layak untuk dikuasai? Daerahnya subur,
serta tersimpan beraneka bahan tambang seperti emas, timah dan sebagainya.
Apa yang mereka
takutkan???
Jawabnya hanya satu, karena NUSANTARA
ketika itu, dilindungi Bangsa Malai. Bangsa Malai dikenal sangat kesohor
memiliki angkatan laut digdaya, kekuatan maritim yang kuat, dan balatentaranya
secara personal memiliki ilmu beladiri yang mumpuni, Penguasa lautan sehingga
Nusantara terkenal sbg kerajaan super power dari timur, bahkan jauh ribuan
tahun sebelum bangsa Mongol berkuasa.
Siti Qanturah
Leluhur Bani Jawi
Pada sekitar tahun 1670SM, dikhabarkan Nabi Ibrahim
(keturunan Syalikh keturunan Sam bin Nabi Nuh) telah sampai berdakwah di negeri
Bangsa Malai. Beliau diceritakan memperistri puteri Bangsa Malai, yang bernama
Siti Qanturah (Qatura/Keturah). Dari pernikahan itu Nabi Ibrahim di karuniai 6
anak, yang bernama : Zimran, Jokshan, Medan, Midian, Ishbak dan Shuah. Dari
anak keturunan Siti Qanturah kelak akan memunculkan bangsa Media (Madyan),
Khaldea dan Melayu Deutro (berdasarkan perkiraan, Nabi Ibrahim hidup di masa
Dinasti Hyksos berkuasa di Mesir Kuno (1730SM-1580SM), sementara versi lain
menyebutkan, Nabi Ibrahim menikah dengan Siti Qanturah, pada sekitar tahun
2025SM). Bangsa Melayu Deutro (Malai Muda), yang saat ini mendiami kepulauan
Nusantara, juga mendapat sebutan Bani Jawi. Bani Jawi yang berasal dari kata
Bani (Kaum/Kelompok) JiWi (Ji = satu/tauhid ; Wi = Widhi atau Tuhan). Jadi
makna Bani Jawi (JiWi) adalah kaum yang meyakini adanya satu Tuhan. Keterangan
mengenai Bani Jawi sebagai keturunan Nabi Ibrahim, ditulis oleh sejarawan
terkemuka Ibnu Athir dalam bukunya yang terkenal ‘al-Kamil fi al-Tarikh’.
Catatan :
Melayu Deutro adalah istilah yang digunakan para sejarawan
modern, untuk meng-indentifikasikan Bani Jawi, dimana Ibnu Athir menerangkan
bahwa Bani Jawi adalah keturunan Nabi Ibrahim.
Keterangan Ibnu Athir ini semakin nyata, ketika baru-baru
ini, dari penelitian seorang Profesor Universiti Kebangsaaan Malaysia (UKM),
diperoleh data bahwa, di dalam darah DNA Melayu, terdapat 27% Variant
Mediterranaen (merupakan DNA bangsa-bangsa EURO-Semitik).
Variant Mediterranaen sendiri terdapat juga di dalam DNA
keturunan Nabi Ibrahim yang lain, seperti pada bangsa Arab dan Bani Israil.
Suku Jawa adalah suku terbesar dari Bani Jawi. Dan sejak
dahulu, mereka menganut monotheisme, seperti keyakinan adanya Sang Hyang Widhi
atau Sangkan Paraning Dumadi. Manunggal kawula gusti
Selain suku Jawa, pemahaman monotheisme juga terdapat di
dalam masyarakat Sunda Kuno. Hal ini bisa kita jumpai pada Keyakinan Sunda
Wiwitan. Mereka meyakini adanya ‘Allah Yang Maha Kuasa’, yang dilambangkan
dengan ucapan bahasa ‘Nu Ngersakeun’ atau disebut juga ‘Sang Hyang Keresa’.
Tulisan ini bukan hanya sekedar cerita, legenda atau mitos,
akan tetapi juga didukung oleh fakta-fakta ilmiah. Mengenai keberadaan Kota
Barus, mari kita ikuti bacaan berikut...
SEJARAH KOTA
BARUS
Sebagai pelabuhan niaga samudera, Barus (Lobu Tua)
diperkirakan sudah ada sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Bahkan ada juga yang
memperkirakan lebih jauh dari itu, sekitar 5000 tahun sebelum Nabi Isa lahir. Perkiraan
terakhir itu didasarkan pada temuan bahan pengawet dari berbagai mummy Fir’aun
Mesir kuno yang salah satu bahan pengawetnya menggunakan kamper atau kapur
barus. Getah kayu itu yang paling baik kualitasnya kala itu hanya ditemukan di
sekitar Barus. Sejarawan di era kemerdekaan, Prof Muhammad Yamin memperkirakan
perdagangan rempah-rempah diantara kamper sudah dilakukan pedagang Nusantara
sejak 6000 tahun lalu ke berbagai penjuru dunia. Seorang pengembara Yunani,
Claudius Ptolomeus menyebutkan bahwa selain pedagang Yunani, pedagang Venesia,
India, Arab, dan juga Tiongkok lalu lalang ke Barus untuk mendapatkan
rempah-rempah. Lalu pada arsip tua India, Kathasaritsagara, sekitar tahun 600
M, mencatat perjalanan seorang Brahmana mencari anaknya hingga ke Barus.
Brahmana itu mengunjungi Keladvipa (pulau kelapa diduga Sumatera) dengan rute
Ketaha (Kedah-Malaysia), menyusuri pantai Barat hingga ke Karpuradvipa (Barus).
Rahasia otak
manusia jawa
Sebuah tinjauan ilmu kedokteran Inilah buku yang mengulas kebudayaan Jawa dari
perspektif berbeda, yaitu sebuah tinjauan ilmu kedokteran syaraf modern.
Penulis yang merupakan dokter spesialis syaraf modern menekankan betapa penting
dan manfaatnya warisan leluhurt Jawa bagi kesehatan. Apa yang pernah dicapai
leluhur Jawa adalah pencapaian kebudayaan yang sangat cerdas dan inovatif.
Lihat saja, hampir di semua aspek kehidupan orang Jawa mempunyai aspek
keteraturan, keindahan dan keanggunan. Bagi penulis kegemilangan budaya Jawa
tidak hanya berkaitan dengan masa lalu namun juga masa kini dan bahkan masa
depan. Melalui pemikiran dan perenungan yang panjang, penulis akan menjelaskan
dengan bukti-bukti ilmiah kedokteran terkait manfaat melestarikan budaya Jawa
bagi kesehatan. Dalam buku ini diulas secara praktis dan menarik beraneka ragam
aspek kehidupan manusia Jawa dikaitkan dengan pemeliharaan kesehatan syaraf dan
jiwa, khususnya untuk mencegah penyakit stroke. Warisan leluhur Jawa yang
diurai dalam prespektif medis diantaranya tarian Jawa klasik seperti Srimpi,
Gambyong, Bedaya Ketawang, pentingnya huruf HaNaCaRaKa bagi senam dan
rehabilitasi otak, manfaat kerawitan bagi penyakit stroke, corak dan warna
batik, ragam puasa orang Jawa, hingga pernak-pernik Jawa mulai wewangian hingga
jajanan pasar yang berarti banyak bagi kesehatan. Membaca buku ini, anggapan
sebelah mata bagi sebagian besar orang yang meremehkan warisan leluhur Jawa pun
akan terpatahkan. Banyak nilai dan semangat hidup yang bisa dipetik dan
dirasakan dengan melestarikan budaya Jawa, Semoga buku ini bermanfaat dan
kebudayaan Jawa Pun lebih berarti dan bermanfaat di kemudian hari. Yang di
bahas buku ini: Stroke malapetaka Apa itu Stroke Strike dan Manifestasinya
“Jawir Loe!” Hanacaraka, Ha Na Cara Kanggo Pinter dan Stroke pada Belahan Otak
Kanan Karekter Huruf Jawa dan Fleksibilitas dalam mengubah Arah Tarian Jawa,
Ngapurancang dan Brain Gym Kerawitan Jawa Notasi Musik Jawa dan Area Auditorik
Otak Kenong Gangguan Jiwa atau Stroke Simbul Huruf dan Pengucan Warna-warni
Asli Orang Jawa Tamarin si Asam Jawa dan Atherosclerosis Batik Tanaman Simbolik
dan Sinaps Otak yang luas Ukiran dan Rangsangan Saraf Sensorik Sopan Santum dan
Efisiensi Energi Budaya Selamatan dan Proses Kimiawi pada otak Ketagihan
Prestasi atua Narkoba dan Sirkuait Reward Puasa Ngrowot dan Nitrogen Oksida
dalam Otak Puasa Mutih dan Peningkatan Sensitivitas Saraf Wewangian Khas Jawa
Dan Sistem Limbik Warna-warni Wayang Kulit Jajanan pasar dan Syaraf Pengecap
Candra Senkala dan Gangguan Pemahaman Bahasa Membaca Keadaan Dan Afasia Motorik
Beras Kencur, Cabe Lempuyang dan Polifarmasi Metik Wohing Panggawe, Otak Kanan
dan Perubahan Gen Galian Singset dan Anti Obesitas Seni Ukir Dan Saraf Sensorik
Bahasa dan Pengaktifan Otak Kiri dan Kanan Bahas Jawa yang Luhur dan Fungsi
Luhur Dakon dan Memori Prosedural, Penetapan Target, Sirkuit Reward
Mencla-mencle dan Stroke Pada Otak Kecil Tekanan Suara Dan Ketenangan Jiwa
Falsafat Jawa Adi Luhur sebagai (Conitive Behaviour Terphy) untuk Ketenagan
Jiwa dan Mencegah Stroke Hanacaraka Untuk Senam Otak, kreativitas dan
Rehabilitasi Saraf Otak Kiri Otak Kanan Untuk Apa Kreativitas? Huruf Jawa
Hanacaraka, Perasaan Seni Dan Kreativitas Perbandingan Huruf Jawa dan
Huruf-huruf Serumpun Kelebihan Huruf Jawa Senam Otak Hanacaraka Manfaat Senam
Otak dengan Hanacaraka Epilog. Data buku JUDUL: Rahasia Otak Manusia Jawa
PENULIS: Dr. Arman Yurisaldi S,SpS PENERBIT: Pinus Book Publisher. (belakang
Monjali) Yogyakarta 55581 Telp: Redaksi (0274) 867151 Faks. 0274-869506.
E-Mail: rumahpinus@yahoo.com,pinusredaksi@gmail.com
ISBN: 978-602-8533-32-4 TEBAL: 199 halaman, 14 x 21 cm CETAKAN : I – 2010
Rahasia Terbesar
Rahasia Terbesar (Tersembunyi) Bani Jawi (Melayu/Nusantara) -Siapakah Bani
Jawi?
-Apa Misi rahasia Bani Jawi?
Siapakah bani Jawi/Jawa/Melayu? Darimanakah asalnya Melayu
itu? Ketika ramai pengkaji memperdebatkan kaum-kaum yang hilang seperti The
Lost Tribe of Israel,Atlantis,Lemuria,Sodom and Gomorrah malah masih
mencari-cari siapakah Gog and Magog,rahsia bangsa misteri ini masih terpelihara
di dalam tabut rahsia sejak beribu-ributahun.Tiada siapa
yang tahu dari mana asalnya bangsa ini.Bagaimana bangsa ini boleh wujud di
tanah paling selatan benua Asia, ’di penghujung dunia’ .Bangsa yang hilang
masih tidur dan ditidurkan. ’Di hujung dunia’, setelah penat mengembara, bangsa
misteri berehat dan berehat tidur dengan lenanya, senyap sunyi tanpa siapa
mengganggu walaupun Hitler telah pergi ke Tibet mencari bangsa misteri ini,
tetapi dia juga ketinggalan jejak mereka dimanakah bangsa misteri ini
meneruskan perjalanan mereka? Masih adakah masa lagi untuk menjejaki mereka? ‘Dihujung
Dunia’ bangsa ini masih nyenyak tidur! J. Crawfurd menambah hujahnya dengan
bukti bahawa bangsa Melayu dan bangsa Jawa telah memiliki taraf kebudayaan yang
tinggi dalam abad kesembilan belas. Taraf ini hanya dapat dicapai setelah
mengalami perkembangan budaya beberapa abad lamanya. Beliau sampai pada satu
kesimpulan bahawa: *Orang Melayu itu tidak berasal dari mana-mana, tetapi malah
merupakan induk yang menyebar ke tempat lain
Rahasia yang terpendam beribu tahun tentang satu bangsa
pengembara yang mencari ‘Tanah yang Dijanjikan’ semakin lama semakin terbongkar
dengan penemuan pelbagai artifak yang penuh misteri dan mengundang pertanyaan
seperti penemuan keris di sebuah kuil purba di Okinawa Jepun, kendi purba yang
sama di Vietnam, Kemboja dan Pahang, penemuan kota purba yang dinamakan
Jawi/Jawa di Jordan dan juga penemuan keris purba di Rusia selain gendang Dong
Son dan Kapak Tua Asia Tengah yang popular itu. APA MAKSUD KEPADA SEMUA MISTERI
INI?
Bangsa terahsia inilah yang menurunkan pelbagai bangsa Asia
dari tempat asal mereka iaitu Asia Barat dan Asia Tengah di mana dari situlah bermulanya
peradaban manusia. Bangsa ini, yang merupakan pemegang rahasia akhir zaman
adalah satu bangsa besar yang pernah membina kota-kota purba dan menyertai
peperangan-peperangan agung sejak surutnya Banjir Besar bersama-sama bangsa
agung yang telah pupus seperti Sumerian dan Akkadian. Sesungguhnya kisah
pengembaraan bangsa ini merupakan satu epik yang teramat panjang, lebih panjang
dari epik Homer,The Iliad and the Odyssey.
Di selat Melaka, kedua-dua kumpulan ini bertemu. Kumpulan
yang tiba melalui jalan laut (yang banyak menetap di Kepulauan Indonesia)
bertemu saudara mereka (kumpulan yang tiba melalui jalan darat-majoriti menetap
di Semenanjung ‘Emas’ Tanah Melayu). Mereka adalah serumpun dan bersaudara.
Sudah lama (ratusan tahun) mereka terpisah. Mereka berpelukan dan menangis.
Ramai yang hadir melihat peristiwa paling bersejarah ini. Mungkin cucu-cicit gadis
misteri yang meninggalkan selendang merah tadi ada di situ. Bangsa Keturah
telah bersatu di Selat Melaka di
‘Tanah Yang Dijanjikan’
The Land of The East’
Apakah rahasia bangsa Melayu 2500 tahun dahulu? Apakah yang
ditemui oleh rombongan kerajaan Nabi Sulaiman di Nusantara? Apakah perjanjian
rahsia para Firaun di The Land of The Gods? Anehnya, para Firaun ini mendakwa
nenek moyang mereka berasal dari tanah ini, yang digelar ‘THE LAND OF THE GODS’